Hari minggu kemarin aku sekeluarga berkunjung ke D Kandang Farm. Tidak jauh dari rumah.Tiket masuk disana Rp. 5000. Disana terdapat peternakan sapi potong, sapi perah, kambing, domba, kolam ikan dan kuda. Sebenarnya ini hampir sama dengan kampung 99 yang ada dilimo, tepatnya didepan kubah mas. Kalau mau ikut permainan pengunjung bayar lagi. Bedanya kalau di sini ada kudanya, pendopo, dan disana lagi tahap membangun (katanya) tempat untuk film pendidikan
(kalau dikampung 99 ada rusa, outbound dan penginapan rumah kayu).
Tapi dari beberapa permainan aku tertarik mencoba menunggangi kuda. Kepingin tahu rasanya jadi joki..xixixi.
. Tiket menaiki kuda itu Rp. 10.000, per orang. Cuek saja walau sudah jadi ibu tiga anak. Kapan lagi.com
. Pertama kali mencoba menunggangi kuda yaitu anak ke satu dan keduaku. Wah hebat mereka berani bawain kuda sambil berpegangan tali kendali kuda tanpa dituntun oleh penjaga kudanya. Wah keren sudah seperti joki beneran hihi
. Nah kini giliran aku maju mencoba menunggangi kuda. Untuk orang dewasa kudanya yang lebih besar. Tapi begini nih aku……
giliran sudah dekat di depan kudanya, aku mulai gugup. ‘Astaga kalau sudah dekat kudanya gede yah ’ kata ku ke penjaga kudanya. “Santai saja bu…tidak apa kok saya pegangi!” kata penjaga kudanya. Setelah itu aku duduk dipelana kuda, kedua kaki kumasukkan ke pedal kuda. Selanjutnya tangan berpegangan ke besi pelana kuda. Setelah itu penjaga kuda mulai menuntun kudanya jalan. “Wah bang tinggi juga yah kudanya!” si abang ketawa-tawa kecil. Kuda berjalan menyusuri peternakan domba dan kambing.
Disaat kuda berjalan ternyata aku baru tahu pelana kuda itu ikut bergoyang miring ke kiri dan kanan mengikuti irama sepatu kuda berjalan. Karena itu ketika kudanya berjalan, pantatku dah mulai miring ke kiri dan ke kanan. Disini aku mulai panik
dan pucat “Bang…bang aku turun disini aja deh!, duh gimana nih kalau jatuh!” tapi si abang dengan santainya masih menuntun kudanya jalan “tenang saja …tidak akan apa-apa kudanya aku pegangi” “haha..gitu yah bang.” aku cuma bisa tertawa keras dan takut
. “pegangan saja ke besi tepat ditengah mbak” kata si abang. “Ternyata jadi joki itu tidak mudah yah bang” Ucapku sambil tertawa kecut. Si abang hanya tertawa. Duh aku mulai tidak konsentrasi nih. Aku sudah tidak nyaman. pantatku miring ke kiri dan ke kanan, aku sibuk mengatur keseimbangan tubuh supaya tidak terjatuh. Disaat aku tidak nyaman ada yang nyeletuk disamping kananku “Mbak pucat banget wajahnya, santai saja mbak!” “iya ni bang saya lagi takut” aku tidak berani nengok ke kanan siapa yang bicara. Aku hanya bisa tertawa lagi. “berdoa mbakkk…..”ucap orang itu lagi tertawa keras “ya ya..ya…sudah diam!..sedang konsentrasi nih !” ujarku agak gugup dan sedikit kesal.
. “tenang aja mbak…dikit lagi sampai bis belokan ini” kata si abang dan aku sedikit lega. Dari kejauhan aku lihat suami dan anak-anak tersenyum(melihat wajahku yang pucat itu kali yah
). Setelah turun petugas d kandang farm tersenyum melihatku “Pucat banget wajahnya bu, padahal santai aja tidak akan apa-apa” aku hanya bisa ketawa lepas karena sudah turun dari kuda “iya nih mas, tanganku masih tegang nih” “tapi tidak apa mas ini jadi pengalaman pertamaku menunggani kuda dan tidak penasaran lagi”ucapku tertawa
. Selanjutnya aku menantang suamiku naik kuda. Kalau berani naik kuda dikasih uang Rp, 30.000,- (hehe…tapi uangnya dikasih anakku buat tiket perah susu sapi dan beli susu
). Waw…ternyata dia sukses jadi penunggang kuda yang tenang dan santai sambil membawa anakku yang bungsu

Begitulah. Walaupun aku bukan penunggang kuda yang baik (hmm..mungkin kudanya bilang penunggang kuda yang satu ini bawel xixi

.jpg)

0 Comments
Mohon memberikan komentar yang berkaitan dengan topik diatas. Dilarang menggunakan kata-kata yang mengandung sara, pornografi, dam kekerasan. Terima kasih atas kunjungan anda.